Senin, 16 Maret 2015

Agar Permohonan Segera Dikabulkan


(Kutipan dari Majalah Islam ar-risalah Edisi 72. Th.VI Jumadil Awal-Jumadil Akhir 1428 H/Juni 2007) Hal 21-23

Pernahkah kita merasa, mengapakah doa-doa yang kita lantunkan seperti jauh dari terkabulkan? Berprasangka buruk pada Allah adalah sebuah kedurhakaan. Tapi instrospeksi atas diri sendiri, sudah layakkah doa kita untuk dikabulkan, barangkali akan lebih memacu kita agar bisa lebih baik lagi.

Mengenai doa, kita dapat belajar dari hadits Abu Hurairah berikut: Rasulullah SAW bersabda, “Allah itu Thayib dan hanya akan menerima sesuatu yang thayib pula. Allah memerintahkan kepada orang mukmin sebagaimana diperintahkan kepada para rasul. “Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Juga,”Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang bak-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika benar-benar hanya kepada Allah kamu beribadah.” Kemudian beliau mengisahkan seorang lelaki yang bepergian jauh, rambut kusut masai, pakaian/tubuhnya berdebu, lalu mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berkata, “Wahai Rabbku.., Wahai Rabbku..” akan tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dirinya dikenyangkan dengan sesuatu yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?!” (HR.Muslim)

Ibnu Rajab al Hambali dalam kitab Jamiul Ulum wal Hikam telah dengan panjang lebar menjelaskan syarah hadits ini. Hadits ini mengajarkan pada kita berbagai tips ataupun adab agar doa kita dapat terkabulkan.  Dan yang menjadi titik tekan adalah bahwa terkabul tidaknya doa sangat terkait erat dengan halal tidaknya makanan dan minuman yang dikonsumsi. Meski telah berdoa dengan cara dan adab yang baik, tapi  jika makanan yang dikonsumsi bukanlah makanan yang halal lagi baik maka doa terancam tidak dikabulkan.

Dari cerita seorang lelaki yang berdoa dalam  hadits di atas dapat diambil beberapa faidah, diantaranya;

Pertama, berdoa dalam kondisi safar.

Dijelaskan bahwa waktu safar adalah waktu yang baik untuk kita memanjatkan permohonan. Shahabat Abu Hurairah meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah SAW yang berbunyi, “Ada tiga jenis doa yang akan senantiasa dikabulkan oleh Allah; doa orang yang dianiaya, doa orang yang bepergian jauh dan doa orangtua untuk anaknya.” (HR.Abu Dawud, Ibnu Majah adn at-Tirmidzi, hadits ini hasan).

Disamping mengambil pelajaran dari berbagai pemandangan yang kita lihat di perjalanan, hendaknya, waktu safar kita jadikan momen untuk berdoa. Dan semakin jauh perjalanannya, peluang dikabulkannya pun semakin besar.

Kedua, bersikap rendah diri dihadapan Allah.

Dalam hadits di atas disebutkan bahwa kondisi orang tersebut memprihatinkan. Rambutnya kusut masai dan pakaiannya juga tubuhnya telah kotor oleh debu. Melambangkan betapa saat itu, orang tersebut benar-benar dalam kondisi kepayahan dan sangat membutuhkan. Sedang Rasulullah SAW pernah bersabda,

“Betapa banyak orang yang kusut masai rambutnya, berdebu tubuhnya dan lusuh pakaiannya, serta diusir jika ia mendekati pintu (rumah orang), namun ketika ia meminta kepada Allah, permintaannya pun dikabulkan.”(HR.al-Hakim)

Karena Allah sangat tidak menyukai kesombongan maka sebaliknya Allah sangat menyukai sikap rendah hati. Orang-orang yang lemah dan miskin seringkali terhindar dari sifat ini sehingga mereka memiliki sifat kemuliaan tersendiri.

Ketiga, berdoa dengan menadahkan tangan ke langit.

Ini juga merupakan adab dalam berdoa. Dimana dalam sebuah hadits disebutkan, mengangkat tangan merupakan faktor penting terkabulnya doa . Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya Allah Mahahidup lagi Mahamulia, Dia akan merasa sangat malu jika ada salah seorang hambanya yang berdoa dengan mengangkat tangannya lalu membiarkannya kembali dengan tangan hampa  dan tidak  mendapatkan sesuatu. (HR.Ahmad, Abu Dawud. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan syaikh Albani)

Sikap ini juga menunjukkan betapa kita benar-benar membutuhkan. Sedang kita hanya memohon kepada Allah karena tahu hanya Allah-lah yang memiliki segalanya.

Keempat, menjaga perut agar hanya mengkonsumsi yang halal.

Dari beberapa adab di atas, ini yang paling penting. Sebab meski seseorang telah berusaha berdoa dengan sebaik mungkin dengan adab-adab di atas akan tetapi jika masih mengkonsumsi makanan haram, doa akan sulit terkabulkan. Sehingga hal ini menjadi kunci utama terkabulnya doa seseorang. Sa’ad adalah shahabat yang terkenal dengan doanya yang selalu mustajab. Dahulu beliau pernah meminta pada Nabi agar mendoakannya menjadi orang yang doanya mustajab. Namun Beliau hanya berkata, “Wahai Sa’ad, perbaikilah makananmu (dengan yang halal), doamu akan terkabul.” (HR. ath Thabrani)

Suatu hari, beliau ditanya salah seorang shahabat bagaimana beliau menjadi orang yang mustabuda’wah, belaiu menjawab, “Saya hanya akan memasukkan makanan ke dalam mulut, setelah tahu darimana makanan itu berasal dan bagaimana dikeluarkan.”
Yusuf bin Asbath berkata, “Sesungguhnya sebab doa tertahan di langit adalah makanan yang haram.:

Kelima, bertawasul dengan asma Allah.

Sebagai tambahan, adab ini juga perlu untuk diperhatikan. Allah berfirman,

Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. al-A’raf:180)

Bertawasul adalah memohon pada Allah dengan perantaraan. Diantara tawasul yang dibolehkan adalah dengan asmaul husna. Sebelum berdoa, terlebih dahulu kita memanjatkan puji-pujian pada Allah seperti tasbih, takbir dan sebagainya dan disertai asmaul husna.

Keenam, tidak tergesa-gesa.

Tidak tergesa-gesa maksudnya tetap sabar dan berharap bahwa Allah akan mengabulkan doanya dan tidak mengatakan, “Aku telah berdoa tapi belum juga dikabulkan.” Sebab dalam hadits disebutkan, Rasulullah SAW bersabda,

“Masih akan dikabulkan (doa) salah seorang kalian selagi ia tidak tergesa-gesa dengan mengatakan, “Aku telah berdoa kepada Rabbku tetapi tidak dikabulkan.” (HR.Ahmad)
Sebab, bisa jadi Allah memiliki hikmah lain di balik itu semua. Mungkin penangguhan terkabulnya doa sebagai peringatan baginya agar mawas diri, atau mengabulkan dari sisi yang lain, atau bisa juga sebagai simpanan di akhirat.

Ketujuh, mengiringi dengan amal shalih

Wahab bin Munabih pernah berwasiat. “orang yang berdoa namun tidak melakukan amal shalih, bagaikan orang yang memanah tanpa busur. Sebab amal shalih adalah sarana agar doa terkabul. “Kemudian beliau membaca firman Allah yang artinya, “…Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal shalih dinaikkan oleh-Nya…” (QS. Fathir: 10)

Kedelapan, optimis doanya akan dikabulkan.

Rasulullah SAW bersabda,

“Allah Ta’ala berfirman, “Aku tergantung pada prasangka hamba-Ku, apabila ia berprasangka baik pada-Ku, maka baginya kebaikan, namun jika ia berprasangka buruk pada-Ku maka baginya keburukan.” (HR. Ahmad)

Sehingga tidak seseorang berdoa tapi berkata, “Kabulkanlah jika Engkau mau.”

Nabi SAW bersabda,

“Jika salah seorang kalian berdoa maka hendaklah memantapkan hatinya, dan jangan berkata, “Ya Allah jika Engkau kehendaki berikanlah kepadaku.” Karena sesungguhnya Allah tidak ada yang memaksa. (HR. Bukhari Muslim)

Kesembilan, tidak memohon sesuatu yang berlebihan

Adalah tidak baik jika kita memohon berbagai hal berlebih-lebihan dan barangkali tak bisa dinalar. Abdullah bin Maghfal meriwayatkan, “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda,
“Akan ada di antar umat ini satu kaum yang berlebih-lebihan dalam bersuci dan berdoa.” (HR. Abu Daud dan Ahmad)

Demikianlah. Setelah berusaha berdoa kita tinggal menyerahkan semuanya pada Yang Mahakuasa.  

Wallahu a’lam.

Sabta, Sukoharjo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar