(Kutipan dari Majalah Islam ar-risalah Edisi 72. Th.VI Jumadil Awal-Jumadil Akhir 1428 H/Juni
2007) Hal 21-23
Pernahkah kita merasa, mengapakah doa-doa
yang kita lantunkan seperti jauh dari terkabulkan? Berprasangka buruk pada
Allah adalah sebuah kedurhakaan. Tapi instrospeksi atas diri sendiri, sudah
layakkah doa kita untuk dikabulkan, barangkali akan lebih memacu kita agar bisa
lebih baik lagi.
Mengenai doa, kita dapat belajar dari hadits Abu
Hurairah berikut: Rasulullah SAW bersabda, “Allah itu Thayib dan hanya
akan menerima sesuatu yang thayib pula. Allah memerintahkan kepada
orang mukmin sebagaimana diperintahkan kepada para rasul. “Wahai para
rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang shalih.
Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Juga,”Wahai
orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang bak-baik yang Kami
berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika benar-benar hanya kepada
Allah kamu beribadah.” Kemudian beliau mengisahkan seorang lelaki yang
bepergian jauh, rambut kusut masai, pakaian/tubuhnya berdebu, lalu mengangkat
kedua tangannya ke langit seraya berkata, “Wahai Rabbku.., Wahai Rabbku..” akan
tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dirinya
dikenyangkan dengan sesuatu yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan
dikabulkan?!” (HR.Muslim)
Ibnu Rajab al Hambali dalam kitab Jamiul Ulum wal
Hikam telah dengan panjang lebar menjelaskan syarah hadits ini. Hadits ini
mengajarkan pada kita berbagai tips ataupun adab agar doa kita dapat
terkabulkan. Dan yang menjadi titik tekan adalah bahwa terkabul tidaknya
doa sangat terkait erat dengan halal tidaknya makanan dan minuman yang
dikonsumsi. Meski telah berdoa dengan cara dan adab yang baik, tapi jika
makanan yang dikonsumsi bukanlah makanan yang halal lagi baik maka doa terancam
tidak dikabulkan.
Dari cerita seorang lelaki yang berdoa
dalam hadits di atas dapat diambil beberapa faidah, diantaranya;
Pertama, berdoa dalam kondisi safar.
Dijelaskan bahwa waktu safar adalah waktu yang
baik untuk kita memanjatkan permohonan. Shahabat Abu Hurairah meriwayatkan
sebuah hadits dari Rasulullah SAW yang berbunyi, “Ada tiga jenis doa yang akan
senantiasa dikabulkan oleh Allah; doa orang yang dianiaya, doa orang yang
bepergian jauh dan doa orangtua untuk anaknya.” (HR.Abu Dawud, Ibnu Majah adn at-Tirmidzi,
hadits ini hasan).
Disamping mengambil pelajaran dari berbagai
pemandangan yang kita lihat di perjalanan, hendaknya, waktu safar kita jadikan
momen untuk berdoa. Dan semakin jauh perjalanannya, peluang dikabulkannya pun
semakin besar.
Kedua, bersikap rendah diri dihadapan
Allah.
Dalam hadits di atas disebutkan bahwa kondisi
orang tersebut memprihatinkan. Rambutnya kusut masai dan pakaiannya juga
tubuhnya telah kotor oleh debu. Melambangkan betapa saat itu, orang tersebut
benar-benar dalam kondisi kepayahan dan sangat membutuhkan. Sedang Rasulullah
SAW pernah bersabda,
“Betapa banyak orang yang kusut masai rambutnya,
berdebu tubuhnya dan lusuh pakaiannya, serta diusir jika ia mendekati pintu
(rumah orang), namun ketika ia meminta kepada Allah, permintaannya pun
dikabulkan.”(HR.al-Hakim)
Karena Allah sangat tidak menyukai kesombongan
maka sebaliknya Allah sangat menyukai sikap rendah hati. Orang-orang yang lemah
dan miskin seringkali terhindar dari sifat ini sehingga mereka memiliki sifat
kemuliaan tersendiri.
Ketiga, berdoa dengan menadahkan tangan
ke langit.
Ini juga merupakan adab dalam berdoa. Dimana
dalam sebuah hadits disebutkan, mengangkat tangan merupakan faktor penting
terkabulnya doa . Rasulullah SAW bersabda,
“Sesungguhnya Allah Mahahidup lagi Mahamulia, Dia
akan merasa sangat malu jika ada salah seorang hambanya yang berdoa dengan
mengangkat tangannya lalu membiarkannya kembali dengan tangan hampa dan
tidak mendapatkan sesuatu. (HR.Ahmad,
Abu Dawud. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan syaikh Albani)
Sikap ini juga menunjukkan betapa kita
benar-benar membutuhkan. Sedang kita hanya memohon kepada Allah karena tahu
hanya Allah-lah yang memiliki segalanya.
Keempat, menjaga perut agar hanya
mengkonsumsi yang halal.
Dari beberapa adab di atas, ini yang paling
penting. Sebab meski seseorang telah berusaha berdoa dengan sebaik mungkin
dengan adab-adab di atas akan tetapi jika masih mengkonsumsi makanan haram, doa
akan sulit terkabulkan. Sehingga hal ini menjadi kunci utama terkabulnya doa
seseorang. Sa’ad adalah shahabat yang terkenal dengan doanya yang selalu
mustajab. Dahulu beliau pernah meminta pada Nabi agar mendoakannya menjadi
orang yang doanya mustajab. Namun Beliau hanya berkata, “Wahai Sa’ad, perbaikilah
makananmu (dengan yang halal), doamu akan terkabul.” (HR. ath Thabrani)
Suatu hari, beliau ditanya salah seorang shahabat
bagaimana beliau menjadi orang yang mustabuda’wah, belaiu menjawab,
“Saya hanya akan memasukkan makanan ke dalam mulut, setelah tahu darimana
makanan itu berasal dan bagaimana dikeluarkan.”
Yusuf bin Asbath berkata, “Sesungguhnya sebab doa
tertahan di langit adalah makanan yang haram.:
Kelima, bertawasul dengan asma Allah.
Sebagai tambahan, adab ini juga perlu untuk
diperhatikan. Allah berfirman,
Hanya milik Allah asmaul husna, maka
bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah
orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya.
Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
(QS. al-A’raf:180)
Bertawasul adalah memohon pada Allah dengan
perantaraan. Diantara tawasul yang dibolehkan adalah dengan asmaul
husna. Sebelum berdoa, terlebih dahulu kita memanjatkan puji-pujian pada Allah
seperti tasbih, takbir dan sebagainya dan disertai asmaul husna.
Keenam, tidak tergesa-gesa.
Tidak tergesa-gesa maksudnya tetap sabar dan
berharap bahwa Allah akan mengabulkan doanya dan tidak mengatakan, “Aku telah
berdoa tapi belum juga dikabulkan.” Sebab dalam hadits disebutkan, Rasulullah
SAW bersabda,
“Masih akan dikabulkan (doa) salah seorang
kalian selagi ia tidak tergesa-gesa dengan mengatakan, “Aku telah berdoa kepada
Rabbku tetapi tidak dikabulkan.” (HR.Ahmad)
Sebab, bisa jadi Allah memiliki hikmah lain di
balik itu semua. Mungkin penangguhan terkabulnya doa sebagai peringatan baginya
agar mawas diri, atau mengabulkan dari sisi yang lain, atau bisa juga sebagai
simpanan di akhirat.
Ketujuh, mengiringi dengan amal shalih
Wahab bin Munabih pernah berwasiat. “orang yang
berdoa namun tidak melakukan amal shalih, bagaikan orang yang memanah tanpa
busur. Sebab amal shalih adalah sarana agar doa terkabul. “Kemudian beliau
membaca firman Allah yang artinya, “…Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan
yang baik dan amal shalih dinaikkan oleh-Nya…” (QS. Fathir: 10)
Kedelapan, optimis doanya akan
dikabulkan.
Rasulullah SAW bersabda,
“Allah Ta’ala berfirman, “Aku tergantung pada
prasangka hamba-Ku, apabila ia berprasangka baik pada-Ku, maka baginya
kebaikan, namun jika ia berprasangka buruk pada-Ku maka baginya keburukan.”
(HR. Ahmad)
Sehingga tidak seseorang berdoa tapi berkata,
“Kabulkanlah jika Engkau mau.”
Nabi SAW bersabda,
“Jika salah seorang kalian berdoa maka hendaklah
memantapkan hatinya, dan jangan berkata, “Ya Allah jika Engkau kehendaki
berikanlah kepadaku.” Karena sesungguhnya Allah tidak ada yang memaksa. (HR.
Bukhari Muslim)
Kesembilan, tidak memohon sesuatu yang
berlebihan
Adalah tidak baik jika kita memohon berbagai hal
berlebih-lebihan dan barangkali tak bisa dinalar. Abdullah bin Maghfal
meriwayatkan, “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda,
“Akan ada di antar umat ini satu kaum yang
berlebih-lebihan dalam bersuci dan berdoa.” (HR. Abu Daud dan Ahmad)
Demikianlah. Setelah berusaha berdoa kita tinggal
menyerahkan semuanya pada Yang Mahakuasa.
Wallahu a’lam.
Sabta, Sukoharjo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar